Langsung ke konten utama

Postingan

Hujan dan Rindu

Hujan hari ini deras... Tidak seperti biasanya, aku hanya menatapnya sambil berbaring, lalu seketika tertidur. Setelah berhenti, aku menemukan titik-titik rindu di sisa-sisa hujan yang terpampang di atas daun. Kau tahu, hujan selalu membuatku menemukan rindu-rindu yang sejak lama ku simpan, bahkan ku sembunyikan. Rindu yang selalu menjadi asa di tengah kehampaan ruang kedap udara.
Urusan cinta memang paling rumit. Entah karena rasa malu atas predikat jomblo atau memang sudah terlanjur cinta. Kawan baru saja bercerita, tentang kisah cinta terlarang nya. Ya, memang itu hanya pandangan dari ku saja, dari idealisnya mindset ku tentang percintaan.  Mungkin bosan dengan kesendirian. Barangkali ingin mencoba untuk membuktikan kesetiaan menanti. Tapi, disisi lain, bergandengan dengan gadis yang sudah memiliki pacar? Ya, walaupun pacarnya jauh dan tak ada status jelas, tetap saja namanya selingkuh. Pemanfaatan keadaan oleh si gadis. Barangkali, karena ingin kehadiran orang spesial. Atau merasa sepi karena jauh dari sang pujaan hati. Tetap saja itu tidak benar untuk menjadi alasan. Ketika pujaan hati datang, begitu saja meninggalkan pria baik yang menemani selama sang pujaan pergi.  Sadar, ya memang sadar dan memang diakui itu sebuah kesalahan. Tapi bimbang memang tak kunjung pergi. Biarlah dia temukan sendiri jalan terbaik. Semoga pendapatku yang ter...

Kau. Tak Perlu Tahu

Kau. Berjuta kata terpikirkan, hanya lebih sulit menyatukannya jadi sebuah kalimat untuk menggambarkan dirimu. Entah mengapa. Apakah terlalu mudah menggambarkanmu atau terlalu sulit. Aku tak yakin pula apa yang seharusnya aku katakan tentangmu. Hanya ada senyum getir. Entah apa artinya.  Kau. Hidupku seakan ditarik mundur, mundur jauh kebelakang. Segala kebodohan kembali diputar dalam memori. Ketika itu kau duduk disampingku, setelah berjalan menyusuri gedung tua sebuah kampus di jakarta. Beberapa pemberianmu ku terima saat itu. Tentu saja dengan rasa suka cita. Setelah hari itu, *POFF* aku kehilangan jejakmu.  Kau. Kau tahu? Setelah hari itu, aku kehilangan akal sehatku. Mengapa? Bayangan-bayangan bodoh itu terlalu memabukkan.  Aku tersanjung, aku terlena, tentu saja itu terlalu cepat. Hatiku mencelos, serasa jantung ini benar-benar jatuh ke lantai, berdarah-darah. Kau. Kau tahu? Aku sungguh kehilangan akal. Tak habis pikir. Apa yang kulakukan selama i...

Lihat Sekali Lagi

Kesunyian malam menambah syahdu malam sendu penuh rindu. Berharap kepergianmu bukan satu-satunya cara untukku mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Mengapa pula kau selalu saja hadir dalam bentuk mimpi indah yang memberikan kesan menyenangkan. Tentu saja menyenangkan hanya lewat mimpi dan menjadi kabur seiring kesadaran menghampiriku. Kesenjangan, menggerakkan permusuhan yang berujung pada caci maki dan iri. Aku memang akan menghindarkan ini, tapi hati lebih senang melakukannya, tanpa mengumbarnya. Tapi bukankah itu yang tak disukai Pencipta ku? Mencaci dalam hati, memendam rasa iri. Prasangka, selalu saja meresahkan. Menerka-nerka, tanpa bertanya, hanya berspekulasi tak puguh. Hingga menghasilkan presepsi sendiri yang lebih banyak tak benarnya. Lebih banyak kecewa karena yang terlihat semua tak sesuai dengan keinginan. Perasaan tak berharga, mungkin lebih tepat tak dihargai.. Menambah deretan rasa kecewa terhadap orang lain karena ekspektasi tak sesuai de...
Seketika aku ingin kejadian itu lebih sering terjadi, saat kau datang dengan wajah datar. Menurut mereka, ucapan dan senyum mu adalah hal langka. Terlihat jelas, sangat jelas dari cara mu melihat sekeliling. caramu melihat kedalam ruangan saat kau berjalan melewati ruanganku.  Melihat senyum mu, rasanya ingin ku abadikan, sayangnya ingatanku tak cukup kuat untuk menyimpannya baik-baik. Dan rasanya Tuhan memang belum mengizinkanku mengenalmu dengan baik. Mungkin juga kau memang tak sungguh melihat aku yang duduk di ruangan itu.  Sampai jumpa lagi, sampai jumpa di lain kesempatan, sampai jumpa, kamu.....
aku hanya ingin percakapan sebelumnya, tak ujug-ujug kau tinggalkan begitu saja.. katakan sisa seluruhnya harus dikerjakan. kau malah melakukan yang lainnya meninggalkan dengan sisa tanggung yang tak mungkin diselesaikan..  kukira cukup, tapi ternyata kurang. sudahlah bagaimana pun, aku tetap anak nakal yang selalu mudah marah.