Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label keresahan

Surat Untuk Bima

Teruntuk, Bima Amartha Putra   Selalu saja keadaan buruk seperti ini yang memaksaku untuk ingat masa lalu. Yang aku ingat, kau suka bernyanyi. Sama sepertiku. Hanya saja kemampuan dan keberanianmu lebih besar ketimbang aku. Dengan gitar kau berdendang tanpa ragu. Aku hanya ikut bersenandung “hmm”. Sepengingatanku, kau pernah jadi pacar temanku. Hubungan yang berlangsung cukup lama dan banyak hal yang terjadi antara kau dan temanku. Putus-nyambung, selalu jadi bumbu. Kau adalah salah satu sahabat dari orang yang pernah cukup dekat dengan ku (sebut saja “mantanku”). Kau mengenalnya lebih dulu daripada aku. Mungkin sebab itu juga kita bisa berteman. Yang aku pernah ingat, tak jarang kita semua bermain di luar jam sekolah. Hanya sekedar nongkrong ala anak abg. Sesekali mengabadikannya lewat foto-foto yang jika dilihat sekarang akan membuat kita berkata, “iuuuuhhh, ini kita dulu?” Kini kau sedang berjuang. Aku tahu kau sedang berjuang. Aku tak pernah cukup dekat unt...

Aku Sedih, Ibu Guru...

Aku banyak bertanya dalam hati, kapan negara ini maju? Kapan negara ini bisa menyeimbangkan kemajuan negara-negara keren di luar sana? Banyak para tetua sudah malas berpikir positif untuk negara ini. Menurut mereka, kemajuan hanya ada di angan-angan. Aku termasuk anak muda yang memiliki perasaan positif atas kemajuan negara ini. Aku punya keyakinan akan kemajuan negara ini. Tapi semangat itu luntur ketika melihat  keadaan yang ada di sekolah adikku, sekolah dasar yang dulunya juga tempat aku bersekolah.  Sekolah ini banyak berubah setelah aku keluar, 9 tahun yang lalu. Mulai dari gedung yang mulai mengalami perbaikan dan menjadi bagus, tata kelasnya, kepala sekolah yang silih berganti, hingga guru-guru yang mengajar. Sekarang, lebih banyak yang membuatku justru menjadi semakin sedih atas keadaan dunia pendidikan sekarang ini, terutama di sekolah itu.  Kebobrokkan manajemen.Etika yang... entah lah apa sebutan halusnya. Ketidakmampuan para pengajar dalam memberikan...

Pasti Karena Jauh Dari-Mu

Amarah selalu saja menuntun kita ke jalan perbandingan. Perbandingan yang selalu merendahkan apa yang sudah kita miiliki. Perbandingan yang ujungnya menjadi sebuah perasaan kurang. Perasaan kurang yang berarti tidak bersyukur atas nikmat yang sudah tersedia.  Amarah, bisikkan dari penggoda manusia, yang selalu saja melingkupi manusia sejak lahir hingga akhir dunia. Tuhan, aku sebal, kenapa amarah selalu melingkupi ku? Aku kesal dengan segalanya. Nampaknya aku kurang mendekatkan diri padaMu, ya? Pasti karena aku sudah jarang khusyuk saat berbincang denganmu. Maafkan aku. 

Lihat Sekali Lagi

Kesunyian malam menambah syahdu malam sendu penuh rindu. Berharap kepergianmu bukan satu-satunya cara untukku mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Mengapa pula kau selalu saja hadir dalam bentuk mimpi indah yang memberikan kesan menyenangkan. Tentu saja menyenangkan hanya lewat mimpi dan menjadi kabur seiring kesadaran menghampiriku. Kesenjangan, menggerakkan permusuhan yang berujung pada caci maki dan iri. Aku memang akan menghindarkan ini, tapi hati lebih senang melakukannya, tanpa mengumbarnya. Tapi bukankah itu yang tak disukai Pencipta ku? Mencaci dalam hati, memendam rasa iri. Prasangka, selalu saja meresahkan. Menerka-nerka, tanpa bertanya, hanya berspekulasi tak puguh. Hingga menghasilkan presepsi sendiri yang lebih banyak tak benarnya. Lebih banyak kecewa karena yang terlihat semua tak sesuai dengan keinginan. Perasaan tak berharga, mungkin lebih tepat tak dihargai.. Menambah deretan rasa kecewa terhadap orang lain karena ekspektasi tak sesuai de...

Kurang Dari 24 Jam Lagi

Kurang dari sehari, mungkin hanya butuh sekitaerr 20 jam lagi untuk kami, mahasiswa tingkat akhir vokasi perumahsakitan, merasakan keresahan yang tak ada habisnya. Besok pagi, hari senin kami disambut oleh kegiatan yang tidak biasa, kegiatan yang menurut kami akan sangat mendebarkan. Magang, itulah kegiatan yang akan kami tempuh mulai esok hingga bulan mei. Kegiatan untuk mengaplikasikan hasil belajar kami selama hampir dua setengah tahun di Vokasi UI. Dan berusaha menyusun tugas akhir sebagai syarat kelulusan kami.  Keresahan merundung kami para pejuang kloter terakhir. Kenapa saya bilang keloter terakhir? Karena ada beberapa rumah sakit yang memita kampus untuk memajukan tanggal magangnya, sehingga selesainya pun lebih cepat.  Kini, semua dari kami hendak mempersiapkan yang dibutuhkan untuk esok hari, pakaian, sepatu, apa saja yang harus dibawa, apa yang harus dikenakan. Semoga magang ini akan menambah pengetahuan dan pengalaman kami. Semoga juga hal yang kami pelajar...