Langsung ke konten utama

Si Waras

Beruntung sebagian dari diriku punya kewarasan yang memadai. Jika tidak, mungkin keseluruhan hidupku mulai berantakan tak karuan.

Si waras berkata,
"Sudah, buat apa kau berhenti di sini? Kau tahu, kau sudah menghabiskan waktu di setiap hari mu unruk memperjuankannya. Sekarang ingin berhenti hanya karena minder? Dasar bodoh!!! *di keplak* . Kau tahu, Semua hal butuh proses, sayang. Kau tak bisa dengan instan menulis semuanya dengan sangat sempurna. Kau melihat mereka yang jago? Hei, itu karena mereka terbiasa. Kau baru memulainya bukan? Lagi pula, kau juga tak punya ekspektasi untuk yang berlebih bukan? Hmm, kau berekspektasi? Aduh, berarti itu salah mu sendiri. Kau tak terbiasa malah berekspektasi yang aneh-aneh. Sudah, jadikan lah ini semua pengalaman hebat yang pernah kau lakukan. Tak semua menganggapmu remeh kok. Sudah, tetap berusaha yaa. Jangan menyerah sampai disini. Sedikiiit lagi sampai tujuan. Nanti setelah itu makin rajin berlatih. Oke?!"



Setelah si waras berkata seperti itu, aku berusaha menuruti nya. Ya, walau masih sangat ragu untuk melanjutkan. Tapi jika tak mencoba sampai akhir, kau takkan tahu yang akan terjadi kan? Akan lebih banyak peristiwa yang akan aku lewatkan. 


Semoga si waras akan tetap tinggal bersama ku disini. Mendampingiku. Memberi pesan dari-Nya untuk tetap berpositif, baik pikiran maupun perasaan. Hudznuzon :)

Wallahu alam ~

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

nonsense

Perasaan macam ini cukup mengganggu hari mingguku. Tampaknya ucapan rindu yang memperparah semuanya. Seharusnya tak kukatakan rasa rindu yang membuncah itu. Nyatanya rindu bukan karena tak bertemu, namun karena tahu bahwa keadaan takkan sama dengan sebelumnya. Karena kamu akan sibuk dengan dirimu sendiri, dengan pekerjaanmu, dan mungkin dengan gadis-gadis baru yang akan kau kenal nanti. Baiklah, memang aku berlebihan. Aku tahu kamu bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada para wanita, tapi aku tahu kamu takkan bisa punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan. Itu yang membuatku cukup khawatir. Kamu tak seharusnya menyebutkan kata kunci itu. Aku terlalu lemah dengan kata itu. Meski kamu ngga berbohong soal itu, tapi maksud dari kata itu aku paham, bukan seperti yang aku inginkan. Tapi tadi aku sebutkan, bahwa aku pun sama sepertimu, yang ingin juga memiliki seseorang yang bisa menjadi teman berbagi apapun. Berbagi cerita, berbagi mimpi-mimpi,berbagi bahagia, juga be...

Moodboster kuuu

Pertama ketemu orang ini, pas SMP kelas 1. Gue bertemen sama dia bukan gara-gara kita seukuran (badannya), cuma yaa memang takdir yang menemukan kita :D. Yang gue tahu dulu tuh ini bocah maaaanja nya minta ampuun. Gue dan temen-temen yang lain suka kesel ngadepin ini anak karena kemanjaannya dia. Pas naik kelas 2, akhirnya gue pisah kelas sama dia. sempet bersyukur (aih jahat nya gueee), tapi kita tetep temenan kok. Kalau saling papasan, pasti ngobrol dulu, biasa lah anak cwe suka rumpi hahaha. Kalo ke kantin suka makan bareng. Oia, ini bocah kalo di sekolah biasanya bawa bekel, dan bekelnya selalu dimakan sama bocah yang lain. dia mah suka bagi-bagi orangnya. baikkan? Eia, gue lupa memperkenalkan ini bocah. Namanya Edwina Maria Cornelia Funck, memang seperti nama orang nasrani, tapi dia pure muslim kok. Anak pertama dari pasangan Alm. Bapak Eduard dan Ibu Titin. Punya adek namanya Geovani (gue ngg tau nama panjangnya). yaaa itu deh sedikit tentang dia. Eh iya, dia masih SINGLE tu...

aku ingin berhenti!

pokoknya aku ingin berhenti! tak ada alasan lagi! aku ingin berhenti! berhenti berharap jadi bunga matahari yang cerah ceria yang mengisi harimu. berhenti berharap jadi orang penting dalam hidupmu.. namun satu saat kau mampu rasakan, bagaimana rasanya tak ada aku.  mungkin saat aku lelah mungkin saat aku bosan mungkin saat aku lebih dulu mati.