Langsung ke konten utama

Surat terbuka untuk P

Kamu, sudah berhasil membuatku berhenti mengganggumu. Sama seperti dia yang lebih dahulu melakukannya. Caranya sama-sama kejam, hanya saja kau lebih berani bicara langsung. Aku suka ketegasanmu. Dan aku berterima kasih karena itu..

Aku sering penasaran tentang apa yang ada dalam pikiranmu. Terlebih saat kau tahu soal perasaanku. Bangga kah dirimu? Senangkah? Atau merasa aneh? Aku juga sekaligus bingung pada diriku sendiri. Pria sepertimu, yang masih egois, mengapa harus kepadamu aku tertarik? Tak acuhmu itu.... aku tak mampu berkata-kata.

Tigatahun,bukan waktu yang singkat untuk jadi pengagum rahasia. Tapi terasa singkat untukku. Sampai aku mengingat kembali kapan pertama kali aku mulai penasaran padamu.

Pertemanan, selama 10tahun bukan waktu sebentar untuk saling mengenal. Tapi tak cukup untuk betul-betul mengenalmu dan hidupmu. Sedikit aku tahu tentang beberapa sifatmu. Dan tak aku sangka, mungkin karena kamu adalah orang yang unik dan aku lebih sering bersinggungan dengan orang-orang yang lebih umum sifatnya, aku jadi membuat ekspektasi tinggi terhadapmu. Lalu aku terpukul karena ekspektasi yang tak sesuai. Aku salah langkah.

Aku berhenti.
Aku takkan mengganggumu.

Karena aku yakin, takdirNya takkan pernah salah dan menyengsarakan.


Dalam doa memohon kebahagiaan dan keselamatan, sesekali aku sebutkan namamu diantara nama-nama lain yang berarti dalam hidupku. Bagaimanapun juga kau tetap teman baikku sejak dulu, aku melakukaknnya untukmu sebagai teman.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

nonsense

Perasaan macam ini cukup mengganggu hari mingguku. Tampaknya ucapan rindu yang memperparah semuanya. Seharusnya tak kukatakan rasa rindu yang membuncah itu. Nyatanya rindu bukan karena tak bertemu, namun karena tahu bahwa keadaan takkan sama dengan sebelumnya. Karena kamu akan sibuk dengan dirimu sendiri, dengan pekerjaanmu, dan mungkin dengan gadis-gadis baru yang akan kau kenal nanti. Baiklah, memang aku berlebihan. Aku tahu kamu bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada para wanita, tapi aku tahu kamu takkan bisa punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan. Itu yang membuatku cukup khawatir. Kamu tak seharusnya menyebutkan kata kunci itu. Aku terlalu lemah dengan kata itu. Meski kamu ngga berbohong soal itu, tapi maksud dari kata itu aku paham, bukan seperti yang aku inginkan. Tapi tadi aku sebutkan, bahwa aku pun sama sepertimu, yang ingin juga memiliki seseorang yang bisa menjadi teman berbagi apapun. Berbagi cerita, berbagi mimpi-mimpi,berbagi bahagia, juga be...

Moodboster kuuu

Pertama ketemu orang ini, pas SMP kelas 1. Gue bertemen sama dia bukan gara-gara kita seukuran (badannya), cuma yaa memang takdir yang menemukan kita :D. Yang gue tahu dulu tuh ini bocah maaaanja nya minta ampuun. Gue dan temen-temen yang lain suka kesel ngadepin ini anak karena kemanjaannya dia. Pas naik kelas 2, akhirnya gue pisah kelas sama dia. sempet bersyukur (aih jahat nya gueee), tapi kita tetep temenan kok. Kalau saling papasan, pasti ngobrol dulu, biasa lah anak cwe suka rumpi hahaha. Kalo ke kantin suka makan bareng. Oia, ini bocah kalo di sekolah biasanya bawa bekel, dan bekelnya selalu dimakan sama bocah yang lain. dia mah suka bagi-bagi orangnya. baikkan? Eia, gue lupa memperkenalkan ini bocah. Namanya Edwina Maria Cornelia Funck, memang seperti nama orang nasrani, tapi dia pure muslim kok. Anak pertama dari pasangan Alm. Bapak Eduard dan Ibu Titin. Punya adek namanya Geovani (gue ngg tau nama panjangnya). yaaa itu deh sedikit tentang dia. Eh iya, dia masih SINGLE tu...

aku ingin berhenti!

pokoknya aku ingin berhenti! tak ada alasan lagi! aku ingin berhenti! berhenti berharap jadi bunga matahari yang cerah ceria yang mengisi harimu. berhenti berharap jadi orang penting dalam hidupmu.. namun satu saat kau mampu rasakan, bagaimana rasanya tak ada aku.  mungkin saat aku lelah mungkin saat aku bosan mungkin saat aku lebih dulu mati.