Langsung ke konten utama

Jingga Senja Kita

Saat senja menjelma menjadi jingga manis, aku duduk di atas kayu kering itu, di hamparan pasir putih pantai bening yang menyegarkan. Okta, kau ingat perjumpaan kita? Ketika dunia maya meleburkan puisi-puisi cinta  yang terbentuk dari kata-kata kita. Kau ingat bagaimana kita bertatap muka? Ketika titik-titik hujan mulai turun dan tetes demi tetes kopi melewati tenggorokan kita. Pahit, manis, gurih, semua kita terima, bahkan jadi favorit kita.

Okta, kini aku duduk ditemani semilir angin senja, wangi laut semerbak berebut memenuhi hidungku. Aku melukis indahnya dengan ingatanku yang ku tata dengan rapih di memori otak kananku. Saat menatanya, tiba-tiba lamunanku terbuyar karena satu panggilan, "Rani!"

Ah, ya, Okta, belum sempat aku memperkenalkanmu dengannya. Dia Andi, calon suamiku. Aku tahu kau sebal karena aku tak memberitahu mu sejak awal. Aku memang tak pernah membawanya melihat senja seperti yang kita lakukan biasanya. Karena senja selalu spesial untuk kau dan aku. 

Maafkan aku, Okta. Tapi aku yakin kau sebal bukan karena keputusanku yang hendak menikah dengan Andi, tapi karena membawanya melihat jingga senja kita. Tak apa, sampai kapan pun, senja selalu milik kita. Meskipun aku tak menyaksikannya bersamamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Bima

Teruntuk, Bima Amartha Putra   Selalu saja keadaan buruk seperti ini yang memaksaku untuk ingat masa lalu. Yang aku ingat, kau suka bernyanyi. Sama sepertiku. Hanya saja kemampuan dan keberanianmu lebih besar ketimbang aku. Dengan gitar kau berdendang tanpa ragu. Aku hanya ikut bersenandung “hmm”. Sepengingatanku, kau pernah jadi pacar temanku. Hubungan yang berlangsung cukup lama dan banyak hal yang terjadi antara kau dan temanku. Putus-nyambung, selalu jadi bumbu. Kau adalah salah satu sahabat dari orang yang pernah cukup dekat dengan ku (sebut saja “mantanku”). Kau mengenalnya lebih dulu daripada aku. Mungkin sebab itu juga kita bisa berteman. Yang aku pernah ingat, tak jarang kita semua bermain di luar jam sekolah. Hanya sekedar nongkrong ala anak abg. Sesekali mengabadikannya lewat foto-foto yang jika dilihat sekarang akan membuat kita berkata, “iuuuuhhh, ini kita dulu?” Kini kau sedang berjuang. Aku tahu kau sedang berjuang. Aku tak pernah cukup dekat unt...

Surat

04 Mei 2013 Hei, aku dengar kau harus beristirahat di rumah perawatan. Kau kelelahan ya? Aku sudah bilang berkali-kali agar kau terus menjaga kesehatanmu. Aku juga tak pernah lupa memintamu untuk makan tepat pada waktunya. Tidak lupa juga aku menyuruhmu minum. Aku tahu kau malas minum. Sekarang kau terkapar, berbaring lemah karena badanmu mulai merajuk. Kau tahu? Tuhan sedang mengingatkan mu pentingnya menjaga milik-Nya. Kebiasaan prokrastinasimu, barangkali salah satu penyebab tubuhmu merajuk. Berjanjilah, untuk selalu menjaga kesegaran tubuhmu. Aku butuh janjimu untuk terus sehat. Makan teratur, minum yang cukup. Kegiatanmu, haruskah aku yang mengorganisir supaya kau dapat melakukan seluruhnya tanpa terjadi tumpang tindih? Manis, aku tak dapat terus menerus bersamamu. Mengirimi pesan singkat untuk mengingatkanmu? Tidakkah kau bosan? Isinya bahkan akan selalu sama. Lagipula, aku tak lagi dapat melakukannya dengan rutin, waktu selalu terasa singkat akhir-akhir ini. Ma...

Dapatkah?

Dapatkah aku menjadi apa yang aku ingikan? Menjadi wanita lembut, yang bersahaja. Wanita yang menggunakan kelembutan hati, daripada teriakkan mencaci. Membicarakan masalah dari hati ke hati, bukan menyindir, berharap mereka yang saya tuju akan mengerti. Beberapa menit yang lalu, aku sudah membentak adik ku. Aku kesal karena kelakuannya yang tak kenal waktu. Membuat khawatir ibu yang sedang tidak enak badan. Tapi ketika melihat wajah kesal bercampur sedihnya, langsung membuat aku merasa bersalah karena membentaknya. Masih bisa kah aku menjadi wanita lembut? Dapatkah aku menjadi seorang Ibu yang lembut mengasuh anak-anaknya? Tanpa teriakkan, tanpa sindiran tak mengenakkan, tanpa kata-kata yang menyakiti hati, tanpa mengeluh pada anak-anakku nanti.