Langsung ke konten utama

Hati-hati di jalan, Nina

Pertemuan denganmu kali ini rasanya berbeda. Kau memiliki rambut yang lebih rapi daripada terakhir kali aku melihatmu, dan aku menyukainya. Tapi kau tetap seperti dahulu, lebih senang berekspresi datar ketika mereka sibuk berbicara ini itu. Kau selalu menjelaskan apapun yang benar-benar kau ketahui. Terlihat pandai. Ku harap itu bukan indikasi yang menandakan kau orang yang sok tahu. 

Saatnya pulang, kau berjalan, bersisian denganku. Tak mengucapkan apa pun. Hanya berjalan, terus menerus. Kita harus menyebrang, kau menggenggam tanganku, berusaha melindugiku dari kendaraan yang tak hendak berhenti dari laju kencangnya. 

Tak ku sangka genggaman itu tak kau lepas hingga kita berpisah. Genggaman itu berbicara. Genggaman hangat nan lembut yang menjaga. Kau berkata lewat genggaman mu, "Bolehkah aku memiliki mu?". Tatapanku memaksudkan ketidakmengertian, "Maksudmu?" 

Kecupan lembutmu di keningku, menjelaskan segalanya. "Hati-hati di jalan, Nina. Jangan ketiduran", ucapmu sambil cubit hidung mungilku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nonsense

Perasaan macam ini cukup mengganggu hari mingguku. Tampaknya ucapan rindu yang memperparah semuanya. Seharusnya tak kukatakan rasa rindu yang membuncah itu. Nyatanya rindu bukan karena tak bertemu, namun karena tahu bahwa keadaan takkan sama dengan sebelumnya. Karena kamu akan sibuk dengan dirimu sendiri, dengan pekerjaanmu, dan mungkin dengan gadis-gadis baru yang akan kau kenal nanti. Baiklah, memang aku berlebihan. Aku tahu kamu bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada para wanita, tapi aku tahu kamu takkan bisa punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan. Itu yang membuatku cukup khawatir. Kamu tak seharusnya menyebutkan kata kunci itu. Aku terlalu lemah dengan kata itu. Meski kamu ngga berbohong soal itu, tapi maksud dari kata itu aku paham, bukan seperti yang aku inginkan. Tapi tadi aku sebutkan, bahwa aku pun sama sepertimu, yang ingin juga memiliki seseorang yang bisa menjadi teman berbagi apapun. Berbagi cerita, berbagi mimpi-mimpi,berbagi bahagia, juga be...

Don't give a sh*t!

Pertemuan singkat kadang justru lebih  berkualitas untuk melegakan hati. Memang Allah telah melakukannya lebih dahulu, tapi pertemuan dan kehadiran seorang teman semacam air yang dikirim Allah disaat kekeringan. Aku mungkin ngga punya hal-hal mewah yang dimiliki oleh banyak orang dengan uang yang berlebih itu, tapi aku lebih bersyukur punya sahabat yang tak hanya memanfaatkan. Lebih dari sepuluh tahun berteman, bukan waktu yang sebentar untuk saling tahu satu sama lain. Nabila selalu paham apa yang perlu ia katakan dan saat kapan harus mengatakan hal tersebut juga kepada siapa ia harus bercerita. Beberapa hari uring-uringan, mungkin karena "tanggalnya" udah dekat, ditambah dengan kejadian hari senin yang bikin dongkol saat interview di salah satu Rumah Sakit elit yang katanya sih gajinya kecil. Entah aku yang terlalu sensitif, atau memang orang itu menyebalkan sekali. Tapi yang jelas, aku patut bersyukur memutuskan untuk ngga lanjut di proses rekrutmen tersebut.  Aku...

aku ingin berhenti!

pokoknya aku ingin berhenti! tak ada alasan lagi! aku ingin berhenti! berhenti berharap jadi bunga matahari yang cerah ceria yang mengisi harimu. berhenti berharap jadi orang penting dalam hidupmu.. namun satu saat kau mampu rasakan, bagaimana rasanya tak ada aku.  mungkin saat aku lelah mungkin saat aku bosan mungkin saat aku lebih dulu mati.