Langsung ke konten utama

Sedikit Keresahan yang Terobati

Selama ini aku percaya, Tuhan selalu mempertemukanku dengan orang-orang baik dan orang-orang yang se-tipe denganku, yang punya kesamaan dalam bergaul. Alhamdulillah, memang begitu adanya, atau paling tidak aku mempunyai teman yang membuatku lebih baik dalam berbuat sesuatu. Dan aku juga sadar, aku selalu menghindar dari teman yang menurutku tak cocok denganku. Memang terkesan pemilih, mungkin karena itu juga aku lebih senang menarik diri dari kerumunan teman-teman yang lebih senang nongkrong.

Tapi tersadar, aku egois.

Aku ingin berteman seperti yang lainnya. Tapi mereka seakan tak menerimaku, lebih senang bermain dengan yang lain. Hmm mungkin itu karma karena perlakuanku kepada yang lainnya..

Tapi, benar adanya, mereka nampaknya memang tak terlalu senang bergaul denganku. Mungkin aku mengganggu mereka dengan omongan yang nggak penting buat mereka. Mungkin juga aku tak pantas jadi teman mereka karena mereka malu punya teman sepertiku. Entahlah.

Tapi sebagian diriku bersyukur. Karena aku tak harus merasa tak nyaman ketika aku tak bisa bersama mereka, toh mereka takkan mencariku. Dan aku yakin, aku mempunyai teman lain yang benar-benar tulus denganku. Aku juga masih punya teman yang sungguh sejati yang justeru sering ku lupakan, yang punya semesta ini, Sang Pencipta yang Maha Agung........

Cukuplah, Ia yang benar-benar sejati dalam semuanya..  Toh hidupku milik-Nya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nonsense

Perasaan macam ini cukup mengganggu hari mingguku. Tampaknya ucapan rindu yang memperparah semuanya. Seharusnya tak kukatakan rasa rindu yang membuncah itu. Nyatanya rindu bukan karena tak bertemu, namun karena tahu bahwa keadaan takkan sama dengan sebelumnya. Karena kamu akan sibuk dengan dirimu sendiri, dengan pekerjaanmu, dan mungkin dengan gadis-gadis baru yang akan kau kenal nanti. Baiklah, memang aku berlebihan. Aku tahu kamu bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada para wanita, tapi aku tahu kamu takkan bisa punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan. Itu yang membuatku cukup khawatir. Kamu tak seharusnya menyebutkan kata kunci itu. Aku terlalu lemah dengan kata itu. Meski kamu ngga berbohong soal itu, tapi maksud dari kata itu aku paham, bukan seperti yang aku inginkan. Tapi tadi aku sebutkan, bahwa aku pun sama sepertimu, yang ingin juga memiliki seseorang yang bisa menjadi teman berbagi apapun. Berbagi cerita, berbagi mimpi-mimpi,berbagi bahagia, juga be...

Don't give a sh*t!

Pertemuan singkat kadang justru lebih  berkualitas untuk melegakan hati. Memang Allah telah melakukannya lebih dahulu, tapi pertemuan dan kehadiran seorang teman semacam air yang dikirim Allah disaat kekeringan. Aku mungkin ngga punya hal-hal mewah yang dimiliki oleh banyak orang dengan uang yang berlebih itu, tapi aku lebih bersyukur punya sahabat yang tak hanya memanfaatkan. Lebih dari sepuluh tahun berteman, bukan waktu yang sebentar untuk saling tahu satu sama lain. Nabila selalu paham apa yang perlu ia katakan dan saat kapan harus mengatakan hal tersebut juga kepada siapa ia harus bercerita. Beberapa hari uring-uringan, mungkin karena "tanggalnya" udah dekat, ditambah dengan kejadian hari senin yang bikin dongkol saat interview di salah satu Rumah Sakit elit yang katanya sih gajinya kecil. Entah aku yang terlalu sensitif, atau memang orang itu menyebalkan sekali. Tapi yang jelas, aku patut bersyukur memutuskan untuk ngga lanjut di proses rekrutmen tersebut.  Aku...

aku ingin berhenti!

pokoknya aku ingin berhenti! tak ada alasan lagi! aku ingin berhenti! berhenti berharap jadi bunga matahari yang cerah ceria yang mengisi harimu. berhenti berharap jadi orang penting dalam hidupmu.. namun satu saat kau mampu rasakan, bagaimana rasanya tak ada aku.  mungkin saat aku lelah mungkin saat aku bosan mungkin saat aku lebih dulu mati.