Langsung ke konten utama

Dia Sahabat, Seperjuangan, Selalu ~

Hari ini gue dapet request buat menceritakan tentang seorang sahabat seperjuangan gue sejak lulus dari SMA. Kenal sama orang ini sih enggak bisa dibilang baru, tapi memang baru dekat sejak kuliah ini saja. Mari kita sambut ....... jeng jeng jerengjeeeeng ....


RULLY PERMATA HARKI

doi minta foto yang dipajang mesti dia yang cantik
Coba bandingkan namanya sama mukanya, sesuai ngga? Soalnya kalau lagi di absen sama dosen biasanya si Harki ini dikira anak laki. 

Hmm, mau bahas apa yah tentang ini bocah? Cerita dari awal aja deh ya. Pertama kenal sama Harki ini, karena kami satu SMA, di SMA pinggiran Tangerang, tapi jauh dari Tangerang. Di SMA kami enggak pernah sekelas, tapi karena temen gue yang sekelas sama Harki, secara enggak langsung kami kenal. Tahun kedua di SMA, kami berbeda jurusan, Harki IPA, sedangkan gue IPS. 
Selain dari situ, kami biasa bertemu di acara-acara yang diadakan oleh OSIS?MPK, karena doi salah satu petinggi OSIS/MPK juga pada masa kejayaan angkatan kami. Disitu kami belum begitu dekat, berbincang pun rasanya seadanya (seingat saya).

Setelah pengumuman tes masuk PTN favorit, ternyata kami diterima di satu jurusan. Pada awalnya Harki masih bimbang untuk mengambil jurusan ini atau memilih Sekolah ikatan dinas yang terkenal itu. Ketika itu aku memohon padanya "Kiii, udah ambil RS ajaaa, biar gue ada temennya...". Pada akhirnya dia memilih untuk daftar ulang di PTN Favorit itu. Jadilah kami bertemu lagi.

Rasa-rasanya kami hanya dipisahkan oleh kelompok OSPEK Universitas, selain itu kami enggak pernah terpisahkan, kayak anak kembar (tapi kayaknya doi enggak sudi dibilang kembar sama gue, karena dia akan bilang kalo dia lebih cantik huffh). Setiap kegiatan maba kami ikuti bersama. Bahkan bolos pun bersama (alias: janjian). Kami mendapatkan kelas yang sama, absen yang berdekatan. Hingga sampai peminatan pun kami masih saja sekelas. Alhasil, kebersamaan kami sudah hampir 3 tahun.

Ini bocah yaa, salah satu dari beberapa orang yang cemerlang di kelas. Penerjemah segala bahasa yang aneh-aneh dan paling mengerti apa yang dimaksud dari omongan orang. Bocahnya suka bercanda. Kalau udah ngeledek tuh, kadang dalem, ngena banget ke orang yang diisengin, apalagi berkaitan dengan kejombloan. Dia yang paling banyak memberi gue nama, yang akhirnya menjadi nama panggilan untuk teman-teman sekelas. Dan nama terakhir yang dia berikan, yang paling membahana se-antero kelas gue, yaitu : JIBIR ~ yeeeeeeeeeee *prok prok prok*

Nah, sekarang tentang kesukaan, kebisaan dan hobi dia. Dia termasuk penyuka novel, terutama yang genre nya thriller dan drama. Suka drama korea juga. Anti ngefans sama artis yang banyak disukain orang, mis: Justin Bieber. Berubah jadi biduan kalau diketemukan dengan salah satu biduan kelas, yaitu Femi. Jago masak. Jago berberes rumah. Tapi sayang, masih jomblo ~ 

Oia, menurut gue Harki punya keluarga yang rada-rada absurd tapi manis. Kalo menurut dia sih yang paling absurd itu adik bungsunya dan yang kedua nyokapnya sendiri. Tapi overall dari semua ceritanya dia, semua keluarganya (termasuk dia) suka melakukan hal-hal konyol.. ~

Harki ini termasuk gadis yang enggak suka mengumbar kisah cintanya. Belum pernah pacaran selama hidupnya, tapi pernah deket sama beberapa cowok. Yang gue tahu sih, yang paling berbekas sama orang yang ada di tahun 2006. Siapa pun gerangan itu, rasa-rasanya belom bisa terhapuskan sampai sekarang. hihihi. Untuk sekarang sih doi enggak pernah cerita tentang cowok spesial atau semacamnya, tapi gue mencium aroma jatuh cinta pada doi. Tapi itu hanya asumsi sih. Kalau benar, ya gue bersyukur  dan riang gembira menyambut peristiwa jatuh cinta si harki. Kalau enggak benar, yaaaaaa gue berharap yang terbaik aja buat doi.. :)

Cerita apa lagi ya? kayaknya udahan dulu deh, udah bingung mau cerita apa lagi tentang doi. 
Cukup sekian dulu deh. Semoga ngga diamuk deh sama yang lagi di omongin. hehe
Terima kasih :)



nb: entah mengapa, menceritakan hal-hal ini membuat gue seperti mempromosikan temen gue. Tapi enggak apa-apa deh, buat kenang-kenangan. Lagi pula ini juga rikues dari yang bersangkutan :p

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nonsense

Perasaan macam ini cukup mengganggu hari mingguku. Tampaknya ucapan rindu yang memperparah semuanya. Seharusnya tak kukatakan rasa rindu yang membuncah itu. Nyatanya rindu bukan karena tak bertemu, namun karena tahu bahwa keadaan takkan sama dengan sebelumnya. Karena kamu akan sibuk dengan dirimu sendiri, dengan pekerjaanmu, dan mungkin dengan gadis-gadis baru yang akan kau kenal nanti. Baiklah, memang aku berlebihan. Aku tahu kamu bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada para wanita, tapi aku tahu kamu takkan bisa punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan. Itu yang membuatku cukup khawatir. Kamu tak seharusnya menyebutkan kata kunci itu. Aku terlalu lemah dengan kata itu. Meski kamu ngga berbohong soal itu, tapi maksud dari kata itu aku paham, bukan seperti yang aku inginkan. Tapi tadi aku sebutkan, bahwa aku pun sama sepertimu, yang ingin juga memiliki seseorang yang bisa menjadi teman berbagi apapun. Berbagi cerita, berbagi mimpi-mimpi,berbagi bahagia, juga be...

Don't give a sh*t!

Pertemuan singkat kadang justru lebih  berkualitas untuk melegakan hati. Memang Allah telah melakukannya lebih dahulu, tapi pertemuan dan kehadiran seorang teman semacam air yang dikirim Allah disaat kekeringan. Aku mungkin ngga punya hal-hal mewah yang dimiliki oleh banyak orang dengan uang yang berlebih itu, tapi aku lebih bersyukur punya sahabat yang tak hanya memanfaatkan. Lebih dari sepuluh tahun berteman, bukan waktu yang sebentar untuk saling tahu satu sama lain. Nabila selalu paham apa yang perlu ia katakan dan saat kapan harus mengatakan hal tersebut juga kepada siapa ia harus bercerita. Beberapa hari uring-uringan, mungkin karena "tanggalnya" udah dekat, ditambah dengan kejadian hari senin yang bikin dongkol saat interview di salah satu Rumah Sakit elit yang katanya sih gajinya kecil. Entah aku yang terlalu sensitif, atau memang orang itu menyebalkan sekali. Tapi yang jelas, aku patut bersyukur memutuskan untuk ngga lanjut di proses rekrutmen tersebut.  Aku...

Surat Untuk Bima

Teruntuk, Bima Amartha Putra   Selalu saja keadaan buruk seperti ini yang memaksaku untuk ingat masa lalu. Yang aku ingat, kau suka bernyanyi. Sama sepertiku. Hanya saja kemampuan dan keberanianmu lebih besar ketimbang aku. Dengan gitar kau berdendang tanpa ragu. Aku hanya ikut bersenandung “hmm”. Sepengingatanku, kau pernah jadi pacar temanku. Hubungan yang berlangsung cukup lama dan banyak hal yang terjadi antara kau dan temanku. Putus-nyambung, selalu jadi bumbu. Kau adalah salah satu sahabat dari orang yang pernah cukup dekat dengan ku (sebut saja “mantanku”). Kau mengenalnya lebih dulu daripada aku. Mungkin sebab itu juga kita bisa berteman. Yang aku pernah ingat, tak jarang kita semua bermain di luar jam sekolah. Hanya sekedar nongkrong ala anak abg. Sesekali mengabadikannya lewat foto-foto yang jika dilihat sekarang akan membuat kita berkata, “iuuuuhhh, ini kita dulu?” Kini kau sedang berjuang. Aku tahu kau sedang berjuang. Aku tak pernah cukup dekat unt...