Langsung ke konten utama

Bingung, Resah, Galau?

Bingung. Bingung mendeskripsikan yang lagi dirasa. Mungkin benar kata buku (yang saya baca), pikiran itu bisa mengendalikan perasaan. Kali ini saya kalah sama pikiran saya.

Sejak semalam, salah saya menonton beberapa video klip yang melantunkan lagu-lagu yang mendayu-dayu. Tanpa berpikir efeknya akan bertahan hingga pagi ini, bahkan hingga sesiang ini. 

Pikiran yang berkuasa, pikiran yang mematahkan semangat, pikiran negatif. Mindset tentang hari mendung, otomatis akan membuat hari semakin kelabu. Hah, memang, lingkungan bermain sangat mempengaruhi. Perasaan yang selalu kurang, selalu merasa belum cukup yang akhirnya menimbulkan pengharapan yang lebih, hingga membuat perasaan tidak karuan, uring-uringan tidak puguh.

Tapi aku memilih untuk melakukan sesuatu yang lebih baik saja. Ingin aku sudahi saja rasa sebal, rasa sedih dan teman-teman lainnya. Hidup bukan untuk terus menerus diratapi kan?


Sedikit kutipan yang iseng saya cari 
"Logically then, negative thought patterns harm not only the mind but also the body. What we actually do builds up to affect the subconscious mind and in turn affects the conscious mind and all reactions.”  -  H.E. DaveyJapanese Yoga: The Way of Dynamic Meditation

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nonsense

Perasaan macam ini cukup mengganggu hari mingguku. Tampaknya ucapan rindu yang memperparah semuanya. Seharusnya tak kukatakan rasa rindu yang membuncah itu. Nyatanya rindu bukan karena tak bertemu, namun karena tahu bahwa keadaan takkan sama dengan sebelumnya. Karena kamu akan sibuk dengan dirimu sendiri, dengan pekerjaanmu, dan mungkin dengan gadis-gadis baru yang akan kau kenal nanti. Baiklah, memang aku berlebihan. Aku tahu kamu bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada para wanita, tapi aku tahu kamu takkan bisa punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan. Itu yang membuatku cukup khawatir. Kamu tak seharusnya menyebutkan kata kunci itu. Aku terlalu lemah dengan kata itu. Meski kamu ngga berbohong soal itu, tapi maksud dari kata itu aku paham, bukan seperti yang aku inginkan. Tapi tadi aku sebutkan, bahwa aku pun sama sepertimu, yang ingin juga memiliki seseorang yang bisa menjadi teman berbagi apapun. Berbagi cerita, berbagi mimpi-mimpi,berbagi bahagia, juga be...

Surat Untuk Bima

Teruntuk, Bima Amartha Putra   Selalu saja keadaan buruk seperti ini yang memaksaku untuk ingat masa lalu. Yang aku ingat, kau suka bernyanyi. Sama sepertiku. Hanya saja kemampuan dan keberanianmu lebih besar ketimbang aku. Dengan gitar kau berdendang tanpa ragu. Aku hanya ikut bersenandung “hmm”. Sepengingatanku, kau pernah jadi pacar temanku. Hubungan yang berlangsung cukup lama dan banyak hal yang terjadi antara kau dan temanku. Putus-nyambung, selalu jadi bumbu. Kau adalah salah satu sahabat dari orang yang pernah cukup dekat dengan ku (sebut saja “mantanku”). Kau mengenalnya lebih dulu daripada aku. Mungkin sebab itu juga kita bisa berteman. Yang aku pernah ingat, tak jarang kita semua bermain di luar jam sekolah. Hanya sekedar nongkrong ala anak abg. Sesekali mengabadikannya lewat foto-foto yang jika dilihat sekarang akan membuat kita berkata, “iuuuuhhh, ini kita dulu?” Kini kau sedang berjuang. Aku tahu kau sedang berjuang. Aku tak pernah cukup dekat unt...

aku ingin berhenti!

pokoknya aku ingin berhenti! tak ada alasan lagi! aku ingin berhenti! berhenti berharap jadi bunga matahari yang cerah ceria yang mengisi harimu. berhenti berharap jadi orang penting dalam hidupmu.. namun satu saat kau mampu rasakan, bagaimana rasanya tak ada aku.  mungkin saat aku lelah mungkin saat aku bosan mungkin saat aku lebih dulu mati.