Langsung ke konten utama

Biar Menggantung Tak Tersentuh, Selesai Sudah

Mengerami rasa yang terus tersimpan baik di tempat hangat,
aku masih saja bodoh melakukan hal yang sama menyakitkannya.

Menggeram karena amarah yang tak tertumpahkan,
amarah yang bukan salah mereka atau dia atau kalian,
amarah dari pikiran, ia juga yang mengakui salahnya.

Menggilai rindu yang tergantung tinggi dilangit langit kamar,
tak dapat tergapai apalagi tersentuh,
terlalu jauh.

Kau tahu betapa sulitnya menggerogoti jeruji besi untuk lepas dari belenggu?
berusaha pergi mengonggongkan kemarahan,
berharap terdengar olehmu, oleh orang lain....
aku ingin keluar....

Aku ingin keluar,
Panas badanku tak lagi sanggup mengerami rasa ini yang tak kunjung menetas...

Biarkan aku mendinginkan semuanya,
aku lelah berjibaku dengan panas,
panas yang tak jelas untuk apa akhirnya......


Biarlah aku tak peduli pada gantungan harapan itu,
biarkan aku meninggalkan ruangan ini
tanpa perlu membawa harapan-harapan palsu yang kau gantungkan di langit-langit kamar


dengan ini,  ingin ku teriakkan di hadapanmu,
AKU SELESAI DENGAN SEMUANYA!



Aku takkan mencarimu, takkan..

aku takkan melolong memohon kehadiranmu, takkan..


Tidak akan..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nonsense

Perasaan macam ini cukup mengganggu hari mingguku. Tampaknya ucapan rindu yang memperparah semuanya. Seharusnya tak kukatakan rasa rindu yang membuncah itu. Nyatanya rindu bukan karena tak bertemu, namun karena tahu bahwa keadaan takkan sama dengan sebelumnya. Karena kamu akan sibuk dengan dirimu sendiri, dengan pekerjaanmu, dan mungkin dengan gadis-gadis baru yang akan kau kenal nanti. Baiklah, memang aku berlebihan. Aku tahu kamu bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada para wanita, tapi aku tahu kamu takkan bisa punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan. Itu yang membuatku cukup khawatir. Kamu tak seharusnya menyebutkan kata kunci itu. Aku terlalu lemah dengan kata itu. Meski kamu ngga berbohong soal itu, tapi maksud dari kata itu aku paham, bukan seperti yang aku inginkan. Tapi tadi aku sebutkan, bahwa aku pun sama sepertimu, yang ingin juga memiliki seseorang yang bisa menjadi teman berbagi apapun. Berbagi cerita, berbagi mimpi-mimpi,berbagi bahagia, juga be...

Don't give a sh*t!

Pertemuan singkat kadang justru lebih  berkualitas untuk melegakan hati. Memang Allah telah melakukannya lebih dahulu, tapi pertemuan dan kehadiran seorang teman semacam air yang dikirim Allah disaat kekeringan. Aku mungkin ngga punya hal-hal mewah yang dimiliki oleh banyak orang dengan uang yang berlebih itu, tapi aku lebih bersyukur punya sahabat yang tak hanya memanfaatkan. Lebih dari sepuluh tahun berteman, bukan waktu yang sebentar untuk saling tahu satu sama lain. Nabila selalu paham apa yang perlu ia katakan dan saat kapan harus mengatakan hal tersebut juga kepada siapa ia harus bercerita. Beberapa hari uring-uringan, mungkin karena "tanggalnya" udah dekat, ditambah dengan kejadian hari senin yang bikin dongkol saat interview di salah satu Rumah Sakit elit yang katanya sih gajinya kecil. Entah aku yang terlalu sensitif, atau memang orang itu menyebalkan sekali. Tapi yang jelas, aku patut bersyukur memutuskan untuk ngga lanjut di proses rekrutmen tersebut.  Aku...

Pertemuan (lagi)...

kembali kau bersenda gurau riang. kembali saling mencela. ah betapa senangnya aku melihat wujudmu kembali, setelah hampir sebulan atau dua bulan tak saling jumpa. bahkan, aku memberimu sesuap kue penuh krim itu. hingga mulutmu belepotan oleh krim putih.. rambutmu sudah rapi. terlihat seperti Elvis Presley hihi. sedari sore hari aku harap-harap cemas, apakah benar-benar akan bertemu dengan mu. tapi kau di situ. memang bukan menungguku, tapi kau di situ. tertawa, bergurau, mengeluarkan celoteh-celoteh jenaka yang konyol, bodoh. tapi aku suka :) ah, senang, kau masih seperti biasanya. riang - gembira, penuh kelakar tak berujung. tetap wangi seperti biasanya. tetap rapi seperti biasanya ... semoga waktu bisa mempertemukan kau dan aku kembali yaa.. ceritamu belum lengkap, tuh... selamat malam, Double R