Langsung ke konten utama

Postingan

Aku memandangi langit malam ini, gelap.. Rembulan bahkan malas menemani.. Angin berhembus mendesaukan kerisauan malam. Suara malam mengerubung, lalu hilang meninggalkan kesunyian. Duduk diatas atap, menahan dingin malam hanya untuk merasakan kesunyian, kesunyian yang menghubungkan dengan yang Maha Pencipta. Berharap kesunyian membawa ketenangan, Bukan kesepian mendalam. Bukan hasrat memeluk kehadiran seseorang. Bukan rasa tersakiti karena ditinggalkan.
Magang, entah kenapa jadi ansos, walau kegiatan berkicau di twitter dan menulis di blog tetap saja ku lakukan. Tetapi rasanya hanya itu yang bisa menjadi temanku selain tempat ku mengadu saat melakukan sholat . Aku tak sungguh tahu kemana aku harus bercerita pada orang-orang yang ku sebut teman. Ya, karena aku yang tak memulai duluan, mana mungkin orang tahu jika aku tak mengatakan. Tapi semua terasa canggung, semua terasa tidak benar dengan kesunyian ini. Ah mungkin hanya perasaan... Seharusnya tak merasa sepi jika ku percaya padaNya. Seharusnya. Ternyata aku masih jauh dari sisiNya.....  Maafkan aku ya Allah... :'(

Entah Apa Namanya

Aku tak pernah mengerti apa namanya ini. Aku tak yakin betul apakah aku sudah benar-benar melupakan masa lalu itu atau belum. Tapi aku pun tak yakin bahwa aku jatuh cinta pada yang sekarang berdiri di hadapanku.  Aku tak yakin apakah ini rasa suka, atau hanya kagum. Karena aku tak sungguh menyukainya, aku hanya menyukai kehadirannya. Ketika hilang, semuanya berubah menjadi biasa saja.  Tapi satu keyakinanku,  kau yang dapat melihat baiknya diriku, jika Tuhan mengizinkan, kau akan menjadi satu-satunya menjadi pemilik lengan yang hendak ku gengam dengan mantap. Takkan terlepas. Hanya bersamamu aku ingin menikmati matahari terbit dan tenggelam, juga menatap bulan di malam cerah. Kau wajah yang hendak kulihat setiap pagi saat ku membuka mata dan malam larut saat ku hendak mengistirahatkan mata lelah ini..... Sampai jumpa, kau. Aku menanti dan masih memantaskan diri untukmu....

Guruku Sayang, Mengapa Begitu?

Apa yang pertama kali kalian pikirkan ketika mengingat masa SD?  Kenangan masa kecil yang penuh kesenangan, belajar menjadi diri sendiri, masa kebimbangan dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Belajar dengan guru-guru yang manis dan baik hati, dimarahi guru yang galak dan tegas, hanya untuk kebaikan para murid-murid.. Aku menyadari, tempatku mengenyam pendidikan dasar pada saat itu, bukanlah sekolah hebat yang memiliki fasilitas keren seperti sekolah-sekolah swasta. Dulu, lapangan kami bopeng-bopeng, banyak lubang. Ring bola basket  yang berkarat.. Kelas yang disekat kayu-kayu lusuh yang sudah dimakan rayap, meja kursi yang penuh coretan putih, penghapus pulpen. Kami berbagi tempat duduk bertiga saat duduk di kelas satu dan dua. Mengantri untuk masuk kelas di setiap pagi. Rapih. Bahagia. Merasa dicintai. Tapi hal tersebut tidak dirasakan oleh adikku yang sedang berjuang untuk menghadapi ujian sekolah di SD yang sama dengan masa kecilku. Kini, yang ad...

Dia, Gadis Mandiri, Inspirasiku

27 Maret 2013 Mungkin aku bukan orang pertama yang mengucapkan, tapi ku harap akan terus mengucapkannya disetiap tahunnya.. Selamat ulang tahun  NABILA FATMA GIYANTI Gadis mandiri, anak Mama yang paling hebat, kakak teladan untuk adik, sahabat yang menginspirasi... Maafkan, aku yang tak mampu memberimu hadiah spesial yang mungkin kau inginkan. Semoga yang lain bisa memberinya. Maafkan aku tak bisa berada di sisimu ketika bertambahnya satu lagi usiamu. Semoga yang lainnya bisa menemanimu. Doaku, semoga kau selalu diberikan kesehatan dan limpahan nikmat dari Allah SWT. Semoga ketabahan juga selalu melingkupimu. Semoga kau selalu diliputi rasa syukur atas hidup yang indah ini. Aku, berdoa untuk mu, untuk cita-citamu, untuk cintamu, untuk persahabatan kita... Kau, anak hebat yang menempuh tempaan keras, kau anak hebat yang melaluinya dengan sangat baik.. Meski tangis, keringat, darah mengucur deras, seluruhnya akan terbayar dengan pengalaman yang kau da...

Mesin Cuciku

Mendung menyapa,  duh cucianku ~ Hari ini hari pertamaku tanpa mesin cuci. Sejujurnya aku bukan orang manja yang nggak bisa mencuci baju menggunakan tangan, hanya saja aku kurang mahir dalam memeras pakaian basah. huffft Bagian meras-memeras biasanya ku serahkan pada mesin cuciku. Tapi kali ini tidak, mesin cuciku kemarin mengeluarkan api. Mungkin sudah bosan mencuci, maklum hidupnya hampir seumur hidupku, bahkan mungkin lebih tua beberapa tahun.  Entah sampai kapan aku akan hidup tanpa si mesin cuci. Mungkin kalau si Matahari sedang nyengir, aku bisa berbahagia mencuci, tapi jika sendu yang merajalela, yaaah aku hanya bisa manyun meratapi cucian yang masih lembab......  I MISS YOU, MY MESIN CUCI....

Mendung

kini tak tampak mentari yang menari-nari kegirangan. mendung menyakiti langit. lihat, bahkan angin berhembus berharap cepat pergi dari kerinduan. di sana, duduk manis seorang gadis, merasakan angin berhembus. sesekali memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. ia ingin ikut bersama angin, tapi tak punya daya. hanya berayun di ayunan tua.